Bahlil Lahadalia, Calon Menteri yang Pernah Jadi Sopir Angkot 

Selasa, 22 Oktober 2019 - 16:44 WIB
Bahlil Lahadalia

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Bahlil Lahadalia turut dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara. Mengenakan kemeja putih, pria kelahiran Banda, Maluku Utara, 7 Agustus 1976 itu disebut akan masuk kabinet Jokowi 2019.

Dia mengaku datang ke Istana karena dihubungi tadi malam. Ia belum mengetahui posisi apa yang ditawarkan kepadanya di kabinet Jokowi 2019.

 

"Tadi malam (dihubungi). Belum-belum (tahu posisinya)," tuturnya, Selasa (22/10/2019).

Jauh sebelum akhirnya dipanggil ke Istana Negara, Bahlil bukan siapa-siapa. Dia dikenal sebagai salah satu pengusaha yang keras berjuang dari 'nol'.

Bahlil dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Ayahnya seorang kuli bangunan, ibunya cuma jadi tukang cuci.

Sejumlah profesi pernah dilakoni pria asal Fakfak, Papua ini. Mulai dari tukang kue semasa kecil, seorang kondektur, hingga menjadi sopir angkot pun dia jalani. Dengan kerja keras itulah dia menjadi orang besar yang tadinya bukan siapa-siapa.

Bahkan, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar Bahlil sudah berjuang. Dia berjualan kue untuk memenuhi kebutuhannya, mulai dari membeli buku, sepatu, hingga kelereng untuk bermain dengan kawannya.

"Dari kecil sejak SD saya itu memang sudah jualan kue ya. Itu terjadi bukan karena ingin, saya juga dulu nggak ingin jadi pengusaha. Tapi karena itu keterpaksaan," ucap Bahlil dalam sebuah wawancara khusus bersama detikcom, setahun silam.

Bukan cuma jualan kue, beranjak remaja segala macam pekerjaan kasar dilakukan Bahlil. Mulai dari kondektur angkot, jualan ikan, jadi kuli bangunan, sampai akhirnya jadi sopir angkot. Bahkan dia mengaku sering menghabiskan masa remajanya hidup di terminal.

Dengan segala kekurangannya, justru Bahlil nekat mau merubah nasib. Dengan modal pas-pasan dirinya terbang ke Jayapura, niatnya untuk kuliah. Cabut ke Jayapura, dia cuma membawa ijazah SMA, tiga stel baju, SIM dan kantong kresek. Bahkan, orang tuanya pun tidak tahu kalau dia ke Jayapura hanya untuk kuliah.

"Saya waktu berangkat kuliah itu orang tua nggak pernah tahu, bahwa saya itu kuliah. Karena saya itu hanya berangkat dan bawa ijazah, baju saya cuma tiga, kemudian modal saya cuma SIM, dan kantong kresek, saya naik Perintis, dari Fakfak ke Jayapura," kisah Bahlil yang pernah menjadi Bendahara Umum PB HMI ini.

Sampai di Jayapura Bahlil sempat luntang-lantung karena tidak ada kampus yang mau menerimanya, namun suatu hari dia dikuatkan oleh ketua asrama yang ditinggalinya. Menurutnya ketua asrama itu kini jadi Wagub Papua Barat. Bahlil bercerita dia dimotivasi untuk tetap kuliah, hingga akhirnya dia mendaftarkan diri ke kampus swasta.

Tahu tidak memiliki uang, Bahlil tidak menyerah, kerja keras terus berlanjut. Sambil kuliah dia tetap mencari uang sendiri.

Pekerjaan kasar kembali dilakoninya. Dia bercerita pernah menjadi tukang dorong gerobak untuk membawa belanjaan orang dari pasar. Dia bercerita sekali 'narik' gerobak cuma diberi uang Rp 200.

"Jadi, kan dari pasar ke tengah jalan, ke pasar itu kurang lebih 70-100 meter, mau tidak mau orang belanja kan harus tenteng tuh belanjaannya sampai di pinggir jalan besar sampai dia naik angkot. Nah saya bagian memfasilitasi itu, saya masih ingat itu Rp 200 perak, saya masih ingat itu," kisah Bahlil.

"Dari situ saya cari duit untuk kuliah, karena jual koran juga saya," lanjutnya.

Sebagai mahasiswa Bahlil juga aktif jadi aktivis, bahkan sempat keluar masuk bui karena pergerakannya. Bolak-balik bui, Bahlil merasa menderita dari situ lah dia mengaku sadar harus mengubah nasibnya sebagai orang yang miskin. Terlebih dia mengaku pernah sampai mengalami busung karena tidak bisa membeli makanan yang layak.

"Saya pernah busung lapar, semester 6 saya busung lapar. Asli busung lapar. Jadi penderitaan yang bener-bener paling menderita itu saya rasain. Waktu itu di tahun 97-98 itu. Saya kemudian, mulai dari situ semester 6 mulai berpikir saya harus menjadi seorang pengusaha," cerita Bahlil.

Dia mengawali karir di dunia keuangan, Bahlil bercerita pernah menjadi pegawai kontrak asuransi. Hingga akhirnya, dia ditawari temannya membangun perusahaan konsultan keuangan. Dari situ dia menjalani karir mulai dari karyawan biasa hingga akhirnya jadi direktur dengan gaji Rp 35 juta di usia yang hanya 25 tahun.

"Kemudian waktu selesai kuliah, saya membangun satu perusahaan dengan teman-teman di Jakarta. Itu konsultan keuangan, IT. Saya waktu itu ditunjuk sebagai karyawan dan menjadi direktur wilayah di sana. Gaji saya waktu itu Rp 35 juta. Karyawan saya hampir 70 orang, dan rata-rata karyawan saya itu adalah orang keuangan," kata Bahlil.

Sejak saat itu lah Bahlil meneruskan karir cemerlangnya, hingga akhirnya dia bis memimpin HIPMI yang dikenal sebagai 'perkumpulan' anak elite bisnis dan politik di Indonesia. Sampai akhirnya, Bahlil kini dipanggil ke Istana Negara dan ditawari kursi menteri.

Editor: Moralis

Tags

Terkini

Terpopuler